Naik-Turun IHSG dan Rupiah akibat perang Iran-Israel
(Oleh Abdul Rahman dan Raja Gusti Mandari Siregar)
Medan, 26 Juni 2025 | 00.30 WIB
Pasar keuangan Indonesia kembali diterpa gelombang ketidakpastian seiring memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah terpantau bergerak fluktuatif, menunjukkan kerentanan pasar domestik terhadap eskalasi konflik antara Iran dan Israel. Situasi ini memicu kekhawatiran pelaku pasar akan potensi dampak global yang lebih luas.
Setelah pengumuman gencatan senjata Iran-Israel, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa sore ditutup menguat 82,03 poin atau 1,21 persen ke posisi 6.869,17. Sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 10,58 poin atau 1,40 persen ke posisi 764,41.
Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, sepuluh sektor menguat, dipimpin sektor properti yang naik sebesar 3,2 persen, diikuti sektor barang konsumen nonprimer serta sektor kesehatan yang naik masing-masing 3,18 persen dan 2,27 persen. Sedangkan satu sektor, yaitu energi, terkoreksi minus 0,51 persen.
Frekuensi perdagangan saham tercatat 1.221.039 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 20,83 miliar lembar saham senilai Rp 11,94 triliun. Sebanyak 453 saham naik, 165 saham turun, dan 181 tidak bergerak nilainya.Frekuensi perdagangan saham tercatat 1.221.039 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 20,83 miliar lembar saham senilai Rp 11,94 triliun. Sebanyak 453 saham naik, 165 saham turun, dan 181 tidak bergerak nilainya.
Pada Senin, 23 Juni 2025, IHSG ditutup melemah seiring dengan pelaku pasar yang masih mencermati eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. IHSG ditutup anjlok 120 poin atau 1,74 persen ke posisi 6.787,14. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 11,10 poin atau 1,45 persen ke posisi 753,83.
“IHSG ditutup melemah akibat kekhawatiran terhadap dampak meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta kenaikan harga minyak mentah terhadap ekonomi domestik di tengah melemahnya daya beli masyarakat dan perang tarif,” ujar analis Phintraco Sekuritas, Ratna Lim. Seperti dilansir Tempo, Rabu, 25 Juni 2025.
Setali tiga uang, nilai tukar rupiah menguat 139 poin atau 0,84 persen pada penutupan perdagangan Selasa, 24 Juni 2025, menjadi 16.354 per dolar AS dari sebelumnya 16.492 per dolar AS. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menguat ke level 16.370 per dolar AS dari sebelumnya 16.484 per dolar AS. Sehari sebelumnya, kurs rupiah melemah 96 poin atau 0,58 persen menjadi 16.492 per dolar AS dari sebelumnya 16.397 per dolar AS. Penyebabnya adalah eskalasi konflik Iran-Israel.
Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menganggap penguatan rupiah pada Selasa dipengaruhi oleh menebalnya harapan perdamaian di Timur Tengah setelah kabar gencatan senjata. Selain itu, kurs rupiah menguat akibat isyarat pejabat Federal Reserve, Michelle Bowman, soal potensi penurunan suku bunga paling cepat pada Juli 2025.
Data yang dihimpun dari pergerakan pasar menunjukkan bahwa IHSG sempat terkoreksi tajam di awal pekan, mencerminkan sentimen negatif investor yang cenderung menarik diri dari aset berisiko di tengah meningkatnya ketegangan. Pelemahan ini juga turut menyeret Rupiah yang tertekan terhadap Dolar Amerika Serikat, bahkan sempat menyentuh level psikologis tertentu yang mengkhawatirkan.
Menurut analis pasar keuangan yang dikutip Tempo.co sebelumnya, kekhawatiran utama investor terletak pada potensi gangguan pasokan minyak global dan kenaikan harga komoditas. Iran, sebagai salah satu produsen minyak utama, memiliki peran krusial dalam rantai pasok energi dunia. "Setiap gejolak di Timur Tengah, terutama yang melibatkan Iran, pasti akan memicu respons langsung pada harga minyak mentah dan secara simultan menekan mata uang negara importir minyak seperti Indonesia," ujar seorang pengamat pasar.
Namun, di tengah tekanan, pasar juga menunjukkan tanda-tanda optimisme sesaat. IHSG dan Rupiah sempat terpantau menguat tipis setelah adanya indikasi de-eskalasi atau pernyataan meredakan tensi dari kedua belah pihak yang berkonflik. Fluktuasi ini menggarisbawahi sensitivitas pasar terhadap setiap perkembangan informasi terkait konflik tersebut.
Bank Indonesia (BI) dan pemerintah terus memantau dengan cermat perkembangan situasi geopolitik global. Gubernur BI sebelumnya telah menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan di tengah ketidakpastian. Berbagai instrumen kebijakan disiapkan untuk memitigasi dampak lanjutan jika tensi geopolitik terus berlanjut atau bahkan memburuk.
Para pelaku pasar kini menanti langkah-langkah diplomatik global yang diharapkan dapat meredakan ketegangan di Timur Tengah. Stabilitas IHSG dan penguatan Rupiah sangat bergantung pada meredanya gejolak geopolitik, yang pada akhirnya akan mengembalikan kepercayaan investor dan mendorong arus modal kembali ke pasar domestik. Hingga konflik mereda, volatilitas diperkirakan akan tetap menjadi karakteristik utama pasar keuangan Indonesia.
Comments
Post a Comment