Peringkat 3 Fatherless Country : Indonesia Krisis Peran Ayah Dalam Keluarga. Nafkah Uang Saja Cukup??
(Oleh Friska Pratiwi dan Fathinatul Wafiqah Lubis)
Ayah adalah figur penting dalam keluarga. Banyak pihak mungkin masih menganggap bahwa tugas utama seorang ayah hanyalah mencari nafkah. Padahal, secara sosiologis dan psikologis, ayah merupakan sosok yang berperan sebagai pelindung, pembimbing, pendidik, serta teladan bagi anak-anaknya. Kehadiran ayah yang aktif dan penuh kasih dalam kehidupan sehari-hari terbukti memiliki dampak positif terhadap perkembangan emosional, perilaku, dan kepercayaan diri anak.
Namun, bagaimana kenyataanya di Indonesia ? Peran vital tersebut mulai mengalami kemunduran. Berdasarkan data dari berbagai lembaga internasional, Indonesia saat ini menempati peringkat ketiga sebagai negara dengan tingkat fatherless tertinggi di dunia. Istilah fatherless mengacu pada kondisi ketika anak yang tumbuh tanpa kehadiran atau keterlibatan aktif dari sosok ayah baik secara fisik, emosional, maupun psikologis.
Berdasarkan data yang dikumpulkan pada tahun 2021 oleh United Nations Children's Fund (UNICEF). Menurut Susenas, jumlah bayi di Indonesia sebanyak 30,83 juta jiwa, 2,67% atau 826.875 bayi tidak tinggal bersama ayah dan ibu kandungnya, dan 7,04% atau 2.170.702 bayi tinggal hanya bersama ibu kandungnya. Artinya, dari 30,83 juta bayi di Indonesia, sekitar 2.999.577 anak telah kehilangan ayah atau tidak tinggal bersama ayah.
Fenomena fatherless dapat menjadi penyebab kedua orang tua bercerai. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan kurangnya eksistensi ayah di dalam keluarga sehingga anak mengalami kekosongan figur yang dapat menimbulkan konflik di dalam rumah tangga hingga terjadi perceraian. Tetapi, anak juga dapat mengalami fatherless setelah perceraian kedua orang tuanya yang disebabkan minimnya waktu untuk berkomunikasi antara anak dan ayahnya sehingga mengindikasikan terjadinya kekosongan figur dan keteladanan serta pengaruh ayah dalam hidupnya yang dikarenakan kualitas pertemuan yang kurang maksimal dan komunikasi yang terjadi di antara keduanya.
Peran ayah hanya sekedar pencari nafkah?Faktanya yang terjadi begitu! Peran ayah sering kali dipersempit hanya sebagai pencari nafkah dalam keluarga. Padahal, tanggung jawab seorang ayah jauh lebih luas, termasuk dalam aspek psikologis anak. Kehadiran ayah secara emosional memiliki dampak besar terhadap tumbuh kembang anak, baik dalam hal rasa aman, kepercayaan diri, hingga pembentukan karakter.
Anak yang mendapat perhatian, kasih sayang, dan dukungan langsung dari ayah cenderung tumbuh menjadi pribadi yang lebih stabil secara emosional dan memiliki kontrol diri yang baik. Sebaliknya, ketidakhadiran ayah, meskipun ia hadir secara fisik tapi tidak terlibat secara emosional, dapat menimbulkan perasaan kekosongan, kesepian, hingga gangguan psikologis pada anak.
Oleh karena itu, menjadi ayah bukan sekadar soal bekerja dan hadirnya materi. Seorang ayah perlu terlibat aktif dalam kehidupan anak sehari-hari. Mendengarkan, mendampingi, memberi contoh dan menunjukkan kasih sayang. Keterlibatan emosional ini adalah bagian penting dari pengasuhan.
Jika kita ingin melihat masa depan Indonesia yang lebih baik, kita harus mulai dari rumah, dari hadirnya seorang ayah yang bukan hanya mencari nafkah, tapi juga hadir dalam mendidik dan membentuk jiwa anak-anaknya. Karena krisis ini bukan hanya soal keluarga, tapi soal masa depan bangsa.
"Anak butuh ayah yang hadir, bukan hanya ayah yang menghidupi"
Comments
Post a Comment