SHOLAT DITENGAH MOBILITAS

 (Oleh : Sri wahyuni dan Adinda Ramadani) Tapanuli Tengah, 25 Juni 2025 – Di tengah padatnya aktivitas dan mobilitas masyarakat modern, semangat menjalankan kewajiban ibadah tidak luntur. Hal ini tampak dari fenomena menarik yang terjadi di sejumlah ruang publik dan tempat persinggahan. Banyak umat Muslim tetap berusaha menunaikan sholat di sela-sela kesibukan, bahkan di tempat-tempat yang tidak biasa.

Sebut saja di terminal, stasiun, bandara, hingga rest area tol, kini tak sulit menemukan seseorang sedang menggelar sajadah kecil di pojok ruangan, atau di balik mobil untuk sekadar menunaikan sholat Dzuhur tepat waktu. Hal ini mencerminkan kesadaran spiritual yang tinggi, sekaligus bentuk adaptasi masyarakat terhadap tantangan era mobilitas tinggi.

Salah satu pelaku perjalanan, Nur Aisyah (28), seorang karyawan swasta yang sering melakukan perjalanan dinas mengaku selalu membawa perlengkapan sholat mini ke mana pun ia pergi.

> “Kadang saya sholat di bandara, kadang di rest area atau bahkan di dalam mobil jika kondisi mendesak. Yang penting waktu tidak terlewat. Alhamdulillah sekarang tempat ibadah makin mudah ditemukan,” ujarnya.

Fenomena ini juga mendapat dukungan dari banyak pengelola fasilitas umum. Beberapa rest area bahkan menyediakan musala bersih dan nyaman, lengkap dengan tempat wudhu, mukena, dan penanda waktu sholat. Di tengah perjalanan, aplikasi penunjuk arah kiblat dan pengingat waktu sholat juga semakin membantu umat Islam tetap terhubung dengan ibadahnya.

Ustadz Ridwan Hasibuan, seorang dai muda di Tapanuli Tengah, menyebut fenomena ini sebagai bentuk nyata kesadaran umat terhadap pentingnya menjaga sholat lima waktu.

> “Islam itu fleksibel tapi tetap menekankan kedisiplinan. Syariat membolehkan sholat dijamak atau diqashar jika dalam perjalanan, tapi bukan berarti meninggalkannya. Semangat seperti ini patut diapresiasi dan dicontoh,” jelasnya.

Meski begitu, tantangan tetap ada. Tidak semua tempat memiliki fasilitas yang layak untuk ibadah. Beberapa pelaku perjalanan mengeluhkan minimnya tempat wudhu atau kondisi musala yang kurang terawat. Ini menjadi catatan penting bagi pengelola fasilitas publik untuk lebih memperhatikan aspek spiritual masyarakat, tidak hanya kebutuhan fisik.

Di tengah mobilitas tinggi dan hiruk-pikuk dunia, suara azan dan gerakan takbir yang tetap dilakukan di tempat sederhana menjadi pengingat: bahwa waktu sholat adalah panggilan yang tidak bisa ditunda.

Comments

Popular posts from this blog

Autothermix dan Recycle PET: Solusi Atasi Sampah Tanpa Masalah

Pelecehan Verbal: Kekerasan Modern yang Dibungkus dengan Tawa

Israel Tahan Kapal Bantuan: Kemanusiaan atau Kepentingan Politik?